Let It Shine

September 13, 2008

Dahulu kala…

Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri.

Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri.

Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya.

Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ke dua karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.

Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu.

Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat.

Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, ‘Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri’.

Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, ‘Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu. Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku?’

‘Tidak akan!’ balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya.

Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya, ‘Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku?’

‘Tidak!’ sahut sang isteri. ‘Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!’

Perasaan sang rajapun hampa dan membeku.

Beberapa saat kemudian, sang raja bertanya pada isteri keduanya, ‘ Selama ini, bila aku membutuhkanmu, kau selalu ada untukku. Jika nanti aku meninggal, apakah kau akan mengikuti dan terus disampingku?’

‘Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaaanmu!’ jawab isteri keduanya. ‘Yang bisa aku lakukan, hanyalah ikut menemanimu menuju pemakamanmu.’

Lagi-lagi, jawaban si isteri bagaikan petir yang menyambar dan menghancurkan hatinya.

Tiba-tiba, sebuah suara berkata:

‘Aku akan bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi.’ Sang raja menolehkan kepalanya mencari-cari siapa yang berbicara dan terlihatlah olehnya isteri pertamanya. Dia kelihatan begitu kurus, seperti menderita kekurangan gizi.

Dengan penyesalan yang sangat mendalam kesedihan yang amat sangat, sang raja berkata sendu, ‘Seharusnya aku lebih memperhatikanmu saat aku m asih punya banyak kesempatan!’

Dalam realitanya, sesungguhnya kita semua mempunyai ’4 isteri’ dalam hidup kita….

‘Isteri keempat’ kita adalah tubuh kita. Tidak peduli berapa banyak waktu dan usaha yang kita habiskan untuk membuatnya terlihat bagus, tetap saja dia akan meninggalkan kita saat kita meninggal.

Kemudian ‘Isteri ketiga’ kita adalah ambisi, kedudukan dan kekayaan kita.
Saat kita meninggal, semua itu pasti akan jatuh ke tangan orang lain.

Sedangkan ‘isteri kedua’ kita adalah keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli berapa lama waktu yang sudah dihabiskan bersama kita, tetap saja mereka hanya bisa menemani dan mengiringi kita hingga ke pemakaman.

Dan akhirnya ‘isteri pertama’ kita adalah jiwa, roh, iman kita,

yang sering terabaikan karena sibuk memburu kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan nafsu.
Padahal, jiwa, roh, atau iman inilah yang akan mengikuti kita kemanapun kita pergi.

Jadi perhatikan, tanamkan dan simpan baik-baik dalam hatimu sekarang!
Hanya inilah hal terbaik yang bisa kau tunjukkan pada dunia.


Let it Shine!


http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.1&attid=0.4&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
gambar yg sangat terkenal. Nguyen Ngoc Loan kepala polisi Vietnam Selatan mengeksekusi mati seorang pemuda yg diduga sebagai Vietcong. Gambar ini memenangkan hadiah pulitzer

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.2&attid=0..8&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
gambar terkenal lainnya yg diambil 1930. 2 orang pemuda afro american yg dituduh memperkosa wanita kulit putih dan membunuh pacarnya, diambil secara paksa oleh gerombolan massa kulit putih yg marah. Mereka lalu digantung.

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.3&attid=0.3&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
Little Rock ‘s Central High adalah saksi dari peristiwa ini. untuk pertama kalinya seorang pemudi afro american mengikuti SMU yg selama ini hanya menerima siswa kulit putih. Hari pertamanya di sekolah diwarnai intimidasi dan ejekan. dia hanya bertahan sekolah selama 4 hari.

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.4&attid=0.6&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
“The Tank Man” gambar seorang mahasiswa yg berdiri membisu di depan tank-tank pemerintah RRC yg akan menumpas demonstrasi mahasiswa di lapangan Tiananmen

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.5&attid=0.5&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
Thích Qung Ðc, seoragn pendeta Buddha dari Vietnam membakar dirinya sendiri hingga tewas dalam rangka protes kepada pemerintah. Semua yg hadir dan menyaksikan aksi ini terheran-heran karena si pendeta selama aksi membakar dirinya tidak tampak kesakitan dan menjerit2. ia tetap duduk diam dalam Lotus Pose hingga menjadi abu.

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.6&attid=0.1&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
Tragedi untuk mengakhiri tragedi. Bom atom yg dijatuhkan Allied Force di Nagasaki untuk mengakhiri WWII

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.7&attid=0.12&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
Albert Einstein si jenius abad 20 termasuk sosok yg jenaka. Foto ini adalah buktinya

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.8&attid=0.11&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
US Marine menancapkan bendera Amerika di Iwo Jima. ini foto amat terkenal

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.9&attid=0.13&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
1932. pekerja konstruksi di New York makan siang bersama di ketinggian GE Building at Rockefeller Center

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.10&attid=0.17&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
gambar terkenal lainnya: para pekerja yg difoto sedang istirahat di palang tinggi

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.11&attid=0.10&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
tragedi terkenal lainnya dari perang Vietnam . “The Napalm Girl”. Phan Th Kim Phúc (lahir 1963) pada umurnya yg ke-9 terkena serangan bom Napalm dari pasukan Amerika. ia berlari telanjang sambil menangis.

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.12&attid=0.14&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
Sudan – 1993. gambar yg sangat mengerikan ini memenangkan hadiah Pulitzer. seekor burung pemakan bangkai menunggu dengan sabar seorang bayi yg berjuang untuk bertahan hidup. fotografernya bunuh diri tidak lama setelah menerima hadiah tsb (1994)

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.13&attid=0.2&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
Omayra Sanchez (1985). Pekerja Palang Merah berjuang keras menyelamatkan gadis yg terjebak ini. Mereka gagal. Setelah 60 jam kemudian Omayra tewas.

http://mail..google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.14&attid=0.15&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
“The Falling Man” diambil dari tragedi 9/11.

http://mail.google.com/mail/?ui=1&realattid=0.1.15&attid=0.7&disp=emb&view=att&th=11c2bc6c21e3efa9
Kamp konsentrasi di Buchenwald . Tentara sekutu yg membebaskan tempat ini menemukan neraka di bumi.

If you think you are unhappy, look at them

If you think your salary is low, how about her?

If you think you don’t have many friends…


When you feel like giving up, think of this man

If you think you suffer in life, do you suffer as much as he does?

If you complain about your transport system, how about them?

If your society is unfair to you, how about her?

Enjoy life how it is and as it comes

Things are worse for others and is a lot better for us J


There are many things in your life that will catch your eye
but only a few will catch your heart….pursue those…

This email needs to circulate forever…:
























Menangkap Hal-hal Sepele

April 28, 2008

Dari Blognya Mas Pepih Nugraha
TULISAN ini pernah ditolak seorang editor, tetapi bukan berarti kiamat dan segalanya berakhir. Dengan modifikasi sedikit ditambah pengayaan data dan suasana peristiwa, akhirnya bisa dimuat juga setelah ditawarkan ke editor lain. Demikianlah, upaya jangan berhenti hanya karena tulisan kita ditolak, lantas kita terpuruk dan semangat pun menguap.
Tidak. Harus katakan tidak! Katakan selamat tinggal buat keterpurukan. Percayalah, tulisan yang kita buat pasti berharga. Berharga buat diri kita, juga buat pembaca. Boleh jadi seorang editor menilai tulisan itu kurang berharga. Akan tetapi, harus selalu ingat, bahwa “konstituen” kita adalah pembaca yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan itu! Kita boleh “dikalahkan” oleh editor, tetapi tidak boleh “dikalahkan” oleh diri sendiri hanya karena tulisan ditolak.
Saya sering membuktikan hal itu. Bagi seorang editor, ini tulisan yang kurang bermakna, tetapi bagi editor lainnya dan jutaan pembaca Kompas, mungkin tulisan ini punya makna. Berikut dua tulisan yang dimaksud, yang dimuat Kompas, 30 November 2007. Satu tulisan pelengkap “Universitas bagi Netizen”, di-upload di tampilan terpisah. Semoga bermanfaat.

NETIZEN
Menangkap Hal-hal Sepele
Oleh PEPIH NUGRAHA
Pernahkah terbayangkan sesosok penampakan menyerupai manusia melayang di pepohonan menjadi foto sekaligus berita utama media massa?
Kalau membuka media online STOMP di alamat www.stomp.com.sg, Anda mungkin baru percaya bahwa itulah berita! Apakah itu berita dan foto peristiwa yang ditulis wartawan profesional? Bukan, itu berita yang dibuat warga biasa!
Suka tidak suka, sebanyak 7.843 warga Singapura telah melihat foto penampakan yang dikirim seorang pewarta warga alias citizen reporter (netizen) dan muncul pada STOMP hari Kamis, 29 November itu. Netizen itu menamakan dirinya STOMPer Lachinos dan memberi judul foto beritanya ’Pontianak’ In Tampines?
Kata “pontianak” di sini maksudnya “kuntilanak”, yang di Singapura dipercaya sebagai makhluk halus berwujud perempuan berambut panjang yang bisa terbang melayang. Ada 43 pengunjung yang mengomentari berita dan foto yang diambil pukul 11 malam, Rabu, 21 November lalu di Tampines itu.
Ada yang berkomentar bahwa itu hanyalah foto tipuan dan hanya sekadar mencari sensasi saja. Tetapi uniknya, ada pula yang memercayai foto yang ditampilkan di rubrik “Singapore Seen” itu sebagai sebuah kebenaran dan kenyataan yang ada di sekeliling mereka.
Masih pada hari yang sama, sebuah foto yang memperlihatkan sepasang kekasih yang sedang maaf, berciuman, di depan umum di sebuah rumah sakit, dibaca 6.035 pengunjung dan 54 di antaranya meninggalkan komentar. Foto dari ponsel berkamera milik STOMPer Z itu ditanggapi secara beragam. Mulai kecaman sampai menganggap hal itu fenomena biasa saja di Singapura.
Inilah berita online dalam dunia maya di internet: berita yang dibuat warga biasa, bukan berita yang dibuat wartawan profesional dari sebuah media massa mainstream. Soal apakah berita itu bernilai, katakanlah penting atau menarik, itu bisa diperdebatkan kemudian.

Versi warga
Yang menarik, berita versi warga itu justru diwadahi oleh koran berpengaruh di Singapura, The Straits Times. STOMP sendiri kependekan dari Straits Times Online Mobile Print. Lalu, bagaimana mungkin sebuah institusi media massa konvensional bisa mewadahi berita, foto, dan video dari warga biasa? Itulah kenyataannya.
STOMP yang bisa berarti “mengentakkan kaki” benar-benar mengintegrasikan konten informasi dan aktivitas warga yang saling berinteraksi dalam tiga platform, yakni cetak, online, dan mobile. Dengan tiga platform itu, memungkinkan STOMP berinteraksi dengan warga Singapura dengan cara baru yang lebih menarik. Tidak seperti media massa mainstream yang pasif!
Dengan menempatkan warga biasa sebagai pewarta, berita yang muncul tidak lagi berita yang dibuat wartawan dan disusun para editor yang seperti tidak mau tahu dengan apa yang ditulisnya. Berita berasal dari warga dengan interaksi berupa komentar pembaca secara lebih akrab, hangat, dan terbuka.
Cara ini berbeda dengan berita yang lahir dari dapur newsroom media massa mainstream yang sering dituding sebagai pihak yang semena-mena “menyuntikkan” informasi, tidak peduli apakah informasi itu dibutuhkan masyarakat atau tidak. Tidak ada interaksi di sini, kecuali dalam skala terbatas, seperti surat untuk redaksi atau letter to the editor.
Sementara berita yang dibuat warga dan ditampilkan secara on-line seperti STOMP, justru terbuka untuk dikomentari warga yang tersambung ke internet, baik melalui komputer pribadi maupun ponsel mobile mereka.
Percakapan di antara warga menjadi berita tersendiri sehingga tidak keliru adagium yang mengatakan bahwa “berita adalah percakapan”. Si penulis berita sebagai saksi atas peristiwa yang direkamnya bisa larut di antara para pembaca. Lantas, menjawab komentar bila perlu.

Dirangkul atau dijauhi?
The Straits Times jelas-jelas merangkul keberadaan pewarta warga atau netizen, bukan malah menjauhinya, apalagi menempatkannya sebagai pesaing. Tidak nyinyir dan mengolok-olok berita yang ditulis warga biasa sebagai informasi sampah. Dan, The Straits Times tidak sendiri.

Tengok jaringan televisi CNN yang memiliki i-Report bagi para pewarta warga yang mengirimkan foto maupun video. Di Yahoo! ada “People of the Web” untuk cerita dan “You Witness News” untuk foto dan video. Di BBC ada “Eyewitness Tale” dan “Survivor Amateur Videos”. MSNBC punya “Citizen Journalists Report”. Uniknya, kantor berita Reuters online pun memberi tempat bagi pewarta warga yang mengirimkan peristiwa yang dialami dan direkamnya.

Citizen journalism dengan ribuan netizen-nya kini bukan lagi sekadar teori, tetapi sudah menjadi kenyataan. Dengan bermodalkan ponsel berkamera, warga sudah bisa mengirimkan foto (images) atau video ke media massa online atau bahkan blog milik sendiri. Tidak aneh kalau media massa mainstream pada suatu masa “kegerahan” juga atas hadirnya para pewarta warga ini.

OhmyNews yang dikembangkan Oh Yeon-ho di Korea Selatan sering dijadikan contoh klasik berhasilnya media massa alternatif para pewarta warga. Di Tanah Air ada Wikimu dan Panyingkul yang secara sadar “merekrut” dan mendidik warga biasa untuk dijadikan pewarta warga. Akan tetapi, keberadaan keduanya berdiri sendiri, tidak terkait dengan media massa mainstream, sama dengan apa yang dilakukan OhmyNews.

Bahwa media massa mainstream yang berkonvergensi atau bertransformasi menjadi media massa online kini membuka pintu atas kehadiran para pewarta warga dan memberinya tempat, itulah kecenderungan yang tengah terjadi sekarang ini.
Meski belum terlalu berkembang, di Kompas online yang beralamat di www.kompas.com, cikal bakal netizen pun sudah ada di rubrik “Community”. Dalam skala tertentu, ia berisi laporan warga meski baru berupa gerundelan atau unek-unek personal yang belum bisa disebut sebagai citizen journalism seutuhnya.
Akan tetapi, semangat dari pewarta warga adalah menangkap serta merekam hal-hal sepele atau remeh-temeh mengenai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Mulai perilaku warga yang merokok dan meludah di sembarang tempat, parkir yang tidak benar, bermesraan di tempat terbuka, sampai peristiwa penampakan versi STOMP tadi. Memang sepele, tetapi itulah berita!
Tulisan Pelengkap
DI bawah ini tulisan saya yang dimaksudkan sebagai pelangkap untuk tulisan “Menangkap Hal-hal Sepele” yang sudah di-upload sebelumnya, yang dimuat Kompas pada hari yang sama, yakni 30 November 2007. Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi:
OCJS
“Universitas” bagi Netizen
Tidak pernah diduga sebelumnya, suatu saat sekolah besar dan lengkap bagi para pewarta warga atau citizen reporter (netizen) akan berdiri. Inilah sekolah bagi para calon pewarta warga yang diberi nama OhmyNews Citizen Journalism School atau OCJS.
Dari namanya sudah dapat ditebak, sekolah ini milik Oh Yeon- ho, pendiri koran online independen di Korea Selatan, OhmyNews—koran online pertama yang merekrut warga sebagai reporternya. Oh ingin menunjukkan bahwa warga biasa, selain bisa menjadi pewarta warga, juga bisa bersaing secara profesional dengan wartawan sungguhan dari berbagai jenis media mainstream, yakni media cetak, elektronik, maupun sesama media online.
Dalam urusan berita, jangan pernah main-main dengan warga biasa!
Demikian pesan yang ingin disampaikan dengan berdirinya OCJS di sebuah wilayah, 90 menit perjalanan menggunakan mobil dari Seoul, ibu kota Negeri Ginseng ini. Sebuah bangunan yang dulu kesepian selama 10 tahun, dengan dana sekitar Rp 4 miliar, direnovasi menjadi pusat pendidikan komunitas pewarta warga. Di sini warga biasa, mulai dari remaja sampai yang berusia senja, dapat belajar menciptakan konten berita online secara mandiri.
Didesain sebagai “pusat pengetahuan kolaboratif”, OCJS yang dibuka 24 November lalu bakal mendidik sekitar 60.000 pewarta warga yang diklaim sebagai netizen OhmyNews. Kini setiap warga Korea Selatan mendapatkan kesempatan mengasah kemampuan mereka menciptakan konten berita.

Jurnalistik
Fakultas jurnalistik di mana pun boleh iri dengan OCJS yang memiliki luas 9.509 meter persegi ini dalam hal kelengkapan belajar-mengajar. Ada tiga ruang kelas yang masing-masing bisa menampung 100 siswa. Ada ruang makan yang dilengkapi hotspot sehingga bisa terkoneksi ke internet setiap saat. Ada pula tempat rekreasi dan fasilitas olahraga luar ruang.
Silabus pelajaran pun tidak kalah dari fakultas jurnalistik yang meluluskan wartawan sungguhan yang kelak bekerja di media massa konvensional. Mulai kelas yang mengajarkan cara kerja wartawan, teknik wawancara, teknik menulis berita, workshop bagi reporter netizen baru, hingga penggunaan kamera digital untuk foto dan video.
Ada juga kelas bagi para eksekutif bermodal yang tergerak memutarkan uangnya di bisnis media. Bagi manajer yang gagap menulis, juga diwadahi di kelas tersendiri.
Uniknya, para pengajar berasal dari pewarta profesional berbagai media massa mainstream, mulai dari wartawan media massa cetak, radio, hingga televisi. Ini masih ditambah pengajar dari pewarta warga senior OhmyNews. Tentu saja Oh Yeon-ho sebagai pendiri, sekaligus pemilik OhmyNews, berkesempatan tampil khusus untuk memberi motivasi bagi calon pewarta warga.
Kalau sudah begini, persaingan terbuka dalam hal kapabilitas, akurasi, serta kecepatan antara wartawan sungguhan dari media massa mainstream dan pewarta warga dari media massa alternatif segera dimulai. Setidak-tidaknya di Korea Selatan. (PEP)

di kopas dari sini:

(Bagian 1)

PERTANYAAN di atas sering terlontar dari rekan maupun saat pelatihan. Saya hanya bisa menjawab bahwa artikel harus aktual, artinya sesuai dengan peristiwa terkini. Jawaban ini sesuai pengalaman saat untuk pertama kali artikel saya dimuat di halaman opini Kompas, yang dulu dikenal sebagai “Halaman 4”.

Waktu itu, artikel saya yang berjudul “Berharap dari KPAT Ke-8” bisa lolos seleksi dan dimuat di “halaman bergengsi” itu pada Rabu 20 Juni 1990, karena disesuaikan dengan adanya Kongres Perpustakaan se-Asia Tenggara di Jakarta. Saat artikel itu muncul, Kongres baru saja dimulai. Artinya, antisipasi dan persiapan saya saat menulis artikel itu dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya!

Halaman 4 Kompas yang memuat Tajuk Rencana dan Opini yang sekarang menjadi Halaman 6, sering dianggap sebagai “Universitas”-nya Kompas. Tempat dimana pemikiran paling mutakhir dari para pakar tercurah. Ada tempat pembelajaran lintas ilmu di sini, selain juga bisa mengetahui arah kebijakan Kompas (baca keberpihakan) lewat Tajuk Rencana dalam menyikapi perkembangan zaman. Kecuali Tajuk Rencana, opini merupakan halaman khusus untuk pembaca atau dalam hal ini pakar, tidak boleh wartawan Kompas menulis opini di situ. Selain bergengsi, honor yang diberikan pun di atas rata-rata honor artikel pada media massa lain.

Mengetahui syarat-syarat yang diinginkan Kompas mengenai sebuah artikel, mungkin salah satu strategi dalam menyiasati artikel agar bisa dimuat. Setelah meminta izin dari Fitrisia M (Mbak Poppy) dari Desk Opini, saya memaparkan 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas.

1. Topik atau tema kurang aktual
2. Argumen dan pandangan bukan hal baru
3. Cara penyajian berkepanjangan
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
6. Konteks kurang jelas
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
8. Uraian Terlalu sumir
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian tidak runut
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru
15. Uraian ditujukan kepada orang
16. Uraian terlalu datar
17. Alinea pengetikan panjang-panjang.

Sahabat sekalian yang berminat menulis opini tinggal menegasikan saja 17 persyaratan di atas. Poin pertama, misalnya, topik atau tema harus aktual. Poin kedua argumen dan pandangan harus hal baru. Poin tiga, penyajian jangan berkepanjangan alias cukup singkat saja, dan seterusnya. Tentu saja ada “trik” lain agar opini bisa lolos dan dimuat, tetapi itu akan saya paparkan di lain kesempatan.

Syarat lain yang amat penting menurut Kadesk Opini Kompas Tony D. Widiastono, adalah panjangnya artikel yang cukup 5.300 karakter atau 700 kata saja dalam Bahasa Indonesia. Biar lebih cepat sampai,tulisan dikirim lewat imel ke alamat: opini@kompas.co.id. Naskah yang lolos pemeriksaan akan dimuat secepatnya. Jika tidak bisa dimuat, dipastikan dikembalikan paling lama dua minggu dari penerimaan naskah.

Bagaimana, Anda berani mencoba?

Apa Syarat Menulis Opini Kompas?

(Bagian 2)

SEORANG sahabat memberi komentar pada postingan saya sebelumnya, bahwa syarat menulis di Kompas harus ditambahkan dua poin lagi, yakni poin 18: kesulitan tempat untuk memuat artikel Anda, dan 19: nama penulis tidak terkenal. Mungkin ini satir atau sindiran halus semata.

Bahwa ada coretan editor di Desk Opini terhadap naskah yang dikembalikan (retour) dengan tulisan tangan berbunyi “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, ada benarnya. Sekadar berbagi info saja, setiap hari editor Desk Opini serta stafnya harus membaca kurang lebih 80-100 artikel yang masuk. Padahal, naskah yang kemungkinan bisa dimuat hanya 2 sampai 4 artikel saja.

Sesungguhnya jika ada coretan tangan editor bahwa “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, itu artinya artikel tersebut masuk nominasi. Sudah dibaca sekian orang dan lolos saringan. Hanya saja setelah dibandingkan dengan artikel lain yang senada dan juga lolos nominasi, pilihan mau tidak mau harus dilakukan.

Bahwa penulis harus orang yang terkenal atau dikenal sehingga penulis tidak terkenal tidak bisa lolos, itu sepenuhnya salah. Saya tidak akan jauh-jauh mengambil contoh pengalaman orang, tetapi pengalaman saya sendiri, meski mungkin terpaksa harus saya ceritakan kembali.

Pada hari Rabu, 20 Juni 1990, saat artikel saya dimuat untuk pertama kalinya di halaman 4 Kompas, percaya atau tidak: itu adalah artikel pertama yang saya kirimkan ke Kompas sekaligus tulisan saya yang dimuat pertama kalinya di Kompas . Tentu saja saya bukan siapa-siapa saat itu, tidak pula penulis yang dikenal. Kecuali mungkin komunitas pembaca majalah berbahasa Sunda, Mangle, sebab di majalah itu saya sering menulis “carpon” atau cerita pendek. Itupun tidak banyak.

Mengapa artikel saya yang bukan siapa-siapa bisa lolos dan dimuat? Fakta ini mungkin bisa mematahkan asumsi bahwa tidak harus penulis terkenal saja yang artikelnya bisa dimuat di halaman 4 (kini halaman 6) Kompas!

Memang sekali waktu, sebagaimana saya tangkap dari Kadesk Opini Kompas Tony D. Widiastono saat temu penulis di Surabaya dua tahun lalu, bahwa mereka yang menulis untuk halaman opini diutamakan yang setidak-tidaknya sarjana atau sudah lulus S1, bukan masih mahasiswa. “Tulisan opini bukan untuk coba-coba, tetapi kepakarannya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tony saat itu.

Meski demikian, mahasiswa (yang belum sarjana S1) tidak dilarang menulis dan mengirimkan opininya ke Kompas. Menurut staf sekretariat Desk Opini, sampai sekarang sejumlah mahasiswa yang belum lulus S1 mengirimkan artikelnya. Bahwa opini mereka belum bisa dimuat, itu soal lain.

Akan tetapi rekan sefakultas saya di Universitas Padjadjaran, Yudi Latif (kini bergelar doktor dan menjadi Deputi Rektor Universitas Paramadina), tiga artikelnya dimuat di halaman opini Kompas dalam kurun waktu 1989. Untuk diketahui, saat itu Yudi masih mahasiswa. Hal sama terjadi pada Denny JA yang sangat produktif menulis di halaman 4 Kompas justru saat ia masih mahasiswa alias belum lulus S1. Anda, mengapa tidak?

Apa Syarat Menulis Opini Kompas?

(Bagian 3)

DALAM dua postingan terdahulu, Berbagi Pengalaman Menulis (34 & 35), selintas saya memaparkan syarat-syarat menulis artikel untuk Kompas. Mengapa tidak syarat menulis cerita pendek (cerpen) atau tulisan lainnya? Barangkali soal waktu dan pilihan saja. Ke depan, saya juga akan menyentuh hal itu.

Anggapan umum mengatakan: jangan lepaskan peristiwa atau wacana terkini, lalu tulis dan cepat kirimkan tulisan kepada Kompas (atau mungkin media lainnya), jangan biarkan penulis lain memangsa isu mutahir itu! Begitu kira-kira.

Maaf bukan maksud mematahkan anggapan ini. Untuk Kompas, main ambil peristiwa mutahir untuk kemudian sesegera mungkin kita tulis, tidaklah cukup. Ada hal lain dari sekadar main cepat-cepatan seperti itu, yakni kepakaran penulis.

Pakar bukan berarti doktor atau professor. Menunggu doktor atau professor menulis, sama saja menunggu Godot tiba karena tidak sedikit professor dan doktor Indonesia yang malas menulis. Kepakaran dengan sendirinya mematahkan anggapan ‘ambil secepatnya peristiwa/isu mutahir’.

Kalau ada peristiwa terkini, katakanlah ledakan bom di Pakistan saat menyambut Benazir Bhutto, tentu saja tidak sembarang penulis yang akan mengambil peristiwa hot itu untuk dijadikan sebuah opini maupun artikel. Anda yang bukan pakar Pakistan, tentu cukup tahu diri untuk tidak akan membuat analisis berita atau artikel mengenai peristiwa berdarah di negerinya Ali Bhutto ini.

Sebaliknya, Kompas akan melihat kepakaran penulis, apakah dia orang yang tepat (prominent) dalam menulis Pakistan, atau sama sekali tidak. Beda misalnya dengan Anda yang mahasiswa S1 Jurusan Hubungan Internasional yang sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan, Anda adalah orang yang tepat. Setidak-tidaknya Anda menulis atribusi Anda sebagai ‘mahasiswa, sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan’.

Apakah hanya karena menulis skripsi Anda dianggap cukup pakar soal Pakistan? Dewan redaksi opini yang akan menentukan, toh setidak-tidaknya Anda punya perhatian dan minat khusus pada politik Pakistan dibanding penulis lain yang baru mengenal Pakistan “kemarin sore”. Anda pasti membaca banyak buku referensi mengenai Pakistan dalam menyusun skripsi. Anda pasti lebih “berharga dan berilmu” dibanding penulis yang menggunakan atribusi ‘pemerhati Pakistan’ atau ‘peminat masalah Pakistan’. Dengan demikian tulisan Anda bakal dilirik editor opini karena kepakaran Anda yang dalam hal ini intensitas Anda dalam mendalami Pakistan.

Anda yang professor, doktor , atau pengkaji khusus masalah-masalah Pakistan, dengan sendirinya “seharusnya” menulis mengenai politik Pakistan mutakhir pasca pengeboman dahsyat. Asal tahu saja, editor Opini sering menelepon pakar tertentu hanya untuk menanyakan apakah bersedia menulis mengenai peristiwa terkini. Nah, bukankah ini peluang yang baik jika Anda yang memiliki kepakaran tertentu segera menulis artikel atau opini mengenai peristiwa mutahir ini.

Apa yang harus Anda tulis dari peristiwa bom Pakistan? Bukan bermaksud mengajari bebek berenang, Anda setidak-tidaknya harus menjelaskan siapa Benazir Bhutto? Apa hubungannya dengan ‘Bapak Pakistan’ Zulfikar Ali Bhutto? Mengapa Benazir kembali ke Pakistan? Mengapa dia dibuang atau mengasingkan diri di negeri orang? Apa maksud Benazir kembali ke Pakistan? Bagaimana reaksi Parvez Musharraf? Apa yang kemungkinan akan dia lakukan terhadap Benazir: dirangkul atau ditentang?

Mengapa pelaku bom disebut-sebut Al Qaeda? Apa betul organisasi pimpinan Osamah bin LAden itu yang melakukannya? Apa tidak ada kemungkinan lain, misalnya intelijen Pakistan? Apa hubungan Benazir dengan Al Qaeda? Mengapa Al Qaeda begitu marah kepada Benazir? Coba jelaskan situasi politik Pakistan ke depan pasca kehadiran kembali Benazir dan aksi-aksi Al Qaeda yang semakin massif ke depan! Cermati pula peran Amerika Serikat yang berkepentingan menjadikan Pakistan sebagai penangkal teroris dalam kemelut Pakistan ini!

Satu hal yang perlu diingat, Anda harus menuangkan semua persoalan di atas dalam sebuah tulisan yang concise, ringkas, dan padat. Tidak lebih dari 5.000 karakter.

Ada beberapa hal lain yang akan saya ceritakan, tetapi baiknya di postingan mendatang saja. Masih tema yang sama soal menulis artikel di Kompas, tetapi dalam tema yang lain, yakni soal atribusi. Sampai bertemu lagi.

Apa Syarat Menulis Opini Kompas ? (Bagian 4)

ARTIKEL atau opini yang ditulis untuk Harian Kompas, menunjukkan siapa, apa dan bagaimana kapasitas penulisnya. Untuk itu, artikel yang ditulis oleh dua orang atau lebih sudah otomotis akan dianulir alias dikembalikan kepada para penulisnya. Artikel mutlak harus ditulis sendiri, tidak boleh tandem.

Mengapa artikel harus ditulis sendiri? Sebab artikel itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh penulisnya sendiri. Ibarat mempertahankan skripsi, tesis atau disertasi, semua harus dilakukan sendiri oleh penulisnya. Bukankah tidak ada yang menulis skripsi, tesis, atau disertasi secara keroyokan? Begitu pula menulis artikel.

Memulai menulis bukan berarti harus tandem dengan penulis yang sudah jadi atau ternama. Asumsinya, penulis ternama yang sudah biasa menulis di media massa, adalah jaminan mutu. Dengan demikian ia bisa “mempromosikan” kolega, kerabat atau keluarganya untuk “sama-sama” menulis. Sebaliknya, penulis baru bisa mendompleng nama penulis yang sudah dikenal. Pokoknya asalkan nama penulis itu bisa termuat di koran. Alhasil, artikel ditulis oleh dua orang atau lebih. Ini tidak boleh dilakukan kalau ingin menulis artikel di Kompas. Sendiri saja dan percaya diri sajalah.

Atribusi atau penyebutan yang melekat ke dalam diri penulis, juga harus menunjukkan kepakaran penulisnya. Misalnya: Polan, penulis adalah Dokter Bedah. Atau penulis adalah Peneliti LIPI, atau penulis adalah Guru Besar Linguistik, atau bahkan penulis adalah Guru TK, dan seterusnya. Jadi, tidak ada lagi atribusi yang menyebutkan bahwa penulis adalah pengamat seni atau penulis adalah penikmat sastra. Tidak ada lagi atribusi yang tidak menunjukkan kepakaran penulisnya.

Pengamat dan penikmat meskipun bisa dan mampu menulis, tetapi tentu saja kedalaman bahasan yang mereka tulis akan berbeda dengan penulis yang sudah teruji kepakarannya. Namanya juga pengamat apalagi penikmat, hal itu bisa dilakukan sambil lalu saja, tidak benar-benar mendalami persoalan yang ditulisnya. Padahal, pembaca artikel atau opini Kompas tidak sedang membaca sambil lalu. Para pembaca memerlukan opini yang mencerahkan, sesuatu yang baru atau setidak-tidaknya ada kebaruan (novelty), suatu bahasan atau kajian yang berbeda dari yang lain dan syukur kalau bisa memberikan inspirasi.

Postingan berikutnya, masih soal tips menulis artikel untuk Kompas, yakni menyangkut substansi yang dibahas dalam artikel. Harap bersabar…..

Essay – KRITERIA OBYEKTIF DAN SUBYEKTIF DALAM PEMUATAN ARTIKEL DI HARIAN KOMPAS

Oleh Satrio Arismunandar

http://satrioarismunandar6.blogspot.com/

Wartawan Harian Kompas, Pepih Nugraha, dalam blognya menyatakan, bagi yang berminat mengirim artikel ke Kompas, perlu mengetahui syarat-syarat yang diinginkan Kompas. Penjabaran kriteria ini bisa menjadi salah satu strategi, dalam menyiasati artikel agar bisa dimuat. Pepih memaparkan 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas. Yaitu:

1. Topik atau tema kurang aktual

2. Argumen dan pandangan bukan hal baru
3. Cara penyajian berkepanjangan
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
6. Konteks kurang jelas
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
8. Uraian Terlalu sumir
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian tidak runut
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru
15. Uraian ditujukan kepada orang
16. Uraian terlalu datar
17. Alinea pengetikan panjang-panjang.
Ditambahkan Pepih, mereka yang berminat menulis opini tinggal menegasikan saja 17 persyaratan di atas. Poin pertama, misalnya, topik atau tema harus aktual. Poin kedua argumen dan pandangan harus hal baru. Poin tiga, penyajian jangan berkepanjangan alias cukup singkat saja, dan seterusnya. Tentu saja ada “trik” lain agar opini bisa lolos dan dimuat, tetapi itu kata Pepih akan ia paparkan di kesempatan lain.

Syarat lain yang amat penting, menurut Kepala Desk Opini Kompas Tony D. Widiastono, adalah panjangnya artikel. Panjangnya cukup 5.300 karakter atau 700 kata saja dalam Bahasa Indonesia. Biar lebih cepat sampai,tulisan dikirim lewat imel ke alamat: opini@kompas.co.id. Naskah yang lolos pemeriksaan akan dimuat secepatnya. Jika tidak bisa dimuat, dipastikan dikembalikan paling lama dua minggu dari penerimaan naskah.

Menurut pengamatan saya, yang kebetulan juga pernah bekerja sebagai wartawan di Kompas, kriteria yang diutarakan Pepih memang benar. Tetapi itu baru koma, belum titik. Si penulis artikel harus bersiap menerima kenyataan, artikelnya dikembalikan, bukan karena tak layak atau tak memenuhi syarat-syarat yang disebut di atas, tetapi karena Kompas kekurangan space untuk memuatnya! Artikel saya pernah beberapa kali dikembalikan deengan alasan keterbatasan tempat untuk memuatnya.

Selain itu, tidak selalu suatu artikel dimuat karena semata-mata pertimbangan obyektif (hal ini bukan cuma berlaku di Kompas, tetapi juga di media-media cetak lain).
Ada hal-hal subyektif, seperti: kedekatan atau “hubungan khusus” antara pemilik media dengan si penulis artikel. Pengelola/pemilik media sering merasa tak enak hati, jika harus menolak tulisan dari tokoh-tokoh senior yang ia kenal dekat.

Selain itu, ada pertimbangan “kemanusiaan” (kasihan) kepada penulis artikel. Artikel itu dimuat dengan niat membantu si penulis, yang diketahui sedang mengalami kesulitan keuangan. Tentu saja, dua alasan subyektif di atas baru bisa dilaksanakan, jika kualitas artikel yang dikirimkan “tidak parah banget.” Jika kualitasnya terlalu buruk, ya tentu saja sulit dimuat, karena akan merusak citra Desk Opini suratkabar bersangkutan.
Saya tahu hal-hal ini, karena juga pernah ikut dalam rapat redaksi (ketika masih kerja di harian Kompas). Di dalam rapat waktu itu, diputuskan oleh pimpinan untuk memuat artikel dari seorang peneliti LIPI, dengan alasan subyektif yang sudah saya sebut di atas.
Jakarta, 14 Januari 2008

Far Eastern Economic Review

April 2008

Asia’s Fight for Web Rights by Rebecca MacKinnon

*In November 2007*, Yahoo! Inc. did what it could have done two years ago

when it became known that the company had aided the 2005 conviction of

Chinese journalist Shi Tao, now serving 10 years in prison for “revealing

state secrets.” In a legal settlement, Yahoo pledged to provide an

undisclosed amount of “financial, humanitarian and legal support” to the

families of Shi Tao and Wang Xiaoning, another dissident jailed in 2003 for

10 years with the help of email data supplied by Yahoo. This came

immediately after Yahoo cofounder and chief executive officer, Jerry Yang,

made a dramatic public apology to Shi Tao’s mother, Gao Qinsheng, at a

United States Congressional hearing. He bowed solemnly to her three times as

tears rolled down her cheeks.

Read the rest of this entry »

Akyu Cintha Laura

April 15, 2008

Minggu, 13 April 2008

Reportase

Aku Cinta Laura

Dari akting dia akan beralih ke tarik suara.

 

Cinta Laura Kiehl yang terkenal dengan Cinta Laura cepat beken. Dalam waktu kurang dari dua tahun berkarier di dunia model dan sinetron, anak semata wayang pasangan Michael Keihl dan Herdiana itu meraih popularitas. Wajah peraih penghargaan SCTV Awards dengan kategori Aktris Ngetop pada 2007 itu mejeng di televisi, media cetak, dan media online.

Banyak yang menilai aktingnya tergolong lumayan untuk pendatang baru, tapi ejekan mesti diterimanya sepaket dengan popularitasnya. Masalahnya, lafal bahasa Indonesianya tak sempurna. Ejekan beredar di milis-milis sampai nada dering di telepon seluler yang berbunyi: “Mana ujyan, bechyek, ngga ada ojyek, becyek, becjek.”

Read the rest of this entry »

Bule Jowo Ngajari Gitar

January 8, 2008

Bule Jowo ngajari gitar.

Keep Earth Clean

December 3, 2007

Blogged with Flock

Tags:

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.